Kamis, Juni 30, 2011

manajemen limbah rph

BAB I DAMPAK LIMBAH RPH TERHADAP PENCEMARAN LINGKUNGAN
Menurut Dart (1985)
Sumber utama penyebab pencemaran dari limbah RPH adalah :
Limbah cair, terdiri dari : faeses dan urine, darah, lemak, air bekas pencuci karkas.
Limbah padat, terdiri dari : tulang, rambut, kuku dan bagian padat yang disaring dari limbah cair.
Limbah padat kurang menyebabkan pencemaran karena umumnya dapat digunakan & dimanfaatkan kembali

Menurut Jorgensen (1979)
Type umum limbah cair RPH adalah sbb:
Limbah cair mengandung lemak, protein & karbohidart dengan konsentrasi yang relatif tinggi.
Pada umumnya limbah cair dapat diolah secara biologik
Proses pengolahan secara biologik menelan biaya yang cukup tinggi, oleh karena limbah cair ini memiliki konsentrasi BOD5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan limbah cair rumah tangga, sehingga proses biologi yang dilakukan sering menggunakan dua atau lebih tahapan pengolahan

Akibat mahalnya biaya pengolahan limbah RPH, maka umumnya limbah RPH tanpa dikelola lebih dahulu  langsung dibuang ke sungai (dumping in water) atau dibunag begitu saja ke atas tanah (open dumping) dan biasanya dimakan burung atau binatang lain.

Hal tersebut harus dicegah karena dapat menyebarkan penyakit dengan cepat dan dalam jarak yang cukup jauh

Dengan semakin berkembangnya daerah pemukiman dan industri di Kota Surabaya, maka kemungkinan terjadinya pencemaran terhadap badan-badan air menjadi semakin besar. Pencemaran terhadap air permukaan akan mengakibatkan makin banyaknya penggunaan air tanah.

Penggunaan air tanah yang berlebihan terutama yang berasal dari sumur-sumur dalam (deep well) dapat mengakibatkan makin cepatnya intrusi air laut ke dalam sumber-sumber air tanah, sehingga makin mengurangi persediaan air bersih.

Limbah RPH dan limbah industri lainnya mempunyai andil terbesar dalam pencemaran kali Surabaya.

Berdasarkan hasil terakhir pemeriksaan laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Pos Surabaya, menunjukkan kondisi kali Surabaya saat ini sangat memprihatinkan. Jumlah beban yang diterima saat ini mencapai 20.000 Kg BOD/hari. Beban pencemaran ini 17.000 Kg BOD/hari berasal dari limbah industri dan 3.000 Kg BOD/hari dari limbah rumah tangga.
Perbandingan Air Limbah dan Air Minum menurut Azwar (1980)

Karakteristik limbah RPH yang mengandung kadar protein tinggi akan menyebabkan penyuburan air, sehingga memungkinkan tumbuhnya tumbuhan air yang tidak dikehendaki atau disebut dengan gulma air.

Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali akan merusak badan air dan menyebabkan terjadinya pendangkalan.

Limbah organik itu bila dibiarkan tanpa dikelola, tidak hanya akan menunjukkan keburukan sanitasi lingkungan, melainkan juga akan menarik binatang penyebab dan penyebar penyakit seperti insecta, rodentia dan lain sebagainya.

Banyak jenis infeksi penyakit melalui makanan (Food Borne Disease) yang ditularkan melalui daging akibat daging terkontamin asi langsung atau tidak langsung oleh limbah RPH. Meat Borne Disesase dapat disebabkan oleh beberapa agent seperti bakteri, jamur, virus, protozoa dan cacing.



Meat Borne Disease yang umum berjangkit disuatu tempat dan erat hubungannya dengan keburukan pengelolaan limbah RPH adalah :

1. Bacterial Meat Borne Disease
a. Salmonellosis
Dapat timbul pada manusia akibat memakan daging yang tercemar oleh kotoran hewan



b. Dysentri
Disebabkan oleh daging yang tercemar bakteri yang banyak terdapat pada limbah cair.

c. Tuberculosis
Disebabkan oleh karena manusia memakan organ atau daging yang menderita sakit TBC.



d. Anthraxis
Disebabkan oleh Bacillus Anthrax, merupakan kuman yang bersifat patogen dan membentuk spora di dalam daging.

e. Brucellosis
Penyakit ini dipindahkan dari hewan ke manusia akibat memakan daging yang tercemar kuman Brucella.



2. Parasitic Meat Borne Disease
a. Cysticercus Bovis/ Taenia Saginata
Infeksi cacing pita ini pada orang-orang yang memakan daging tercemar tanpa dimasak matang lebih dahulu.

b. Cysticercus Cellulosa/ Taenia Solium
Hanya babi yang merupakan sumber infeksi Taenia Solium pada manusia dimana babi terinfeksi oleh telur cacing yang terdapat pada kotoran dan makanan



c. Hydatidosis/Echinococcus
Kurangnya fasilitas pemotongan yang layak dan pemeriksaan serta pengapkiran organ-organ tubuh yang terinfeksi Cyste Hydatid akan menyebabkan anjing atau kucing memakan limbah tersebut.
Echinococcus pada anjing sangat berperan dalam menimbulkan infeksi pada manusia.




d. Trichinella Spiralis
Parasit ini terutama terdapat pada babi, siklus hidup Trichinella spiralis sempurna pada induk semang. Babi terkena infeksi akibat memakan makan sampah yang mengandung Cyste yang berasal dari limbah RPH.
Manusia terinfeksi karena memakan daging babi panggang (Grilled Meat) yang hanya matang bagian permukaannya saja.




3. Food Poisioning
a. Keracunan Staphylococcus
Disebabkan oleh Entero toksin yang diproduksi oleh strain Staphylococcus.
Manusia keracunan karena makan daging yang seharusnya dibuang.
b. Keracunan Botulismus
Disebabkan oleh Exo toksin dari Clostridium Botulinum. Manusia keracunan karena makan daging yang tercemar Clostridium Botulinum.



c. Keracunan Clostridium Perfringens.
Disebabkan oleh Exo toksin dari Clostridium perfringens, manusia keracunan karena makan daging yang mengandung Exo toksin ini, yang biasa terdapat pada daging busuk.




Keracunan nitrat dan nitrit terjadi pada hewan dan manusia karena limbah industri dan lingkungan yang tercemar limbah organik.
Di daerah yang airnya banyak mengandung nitrat, keracunan nitrat bisa terjadi pada bayi dan hewan muda (pedet) karena flora di dalam saluran pencernaan mampu mengolah nitrat menjadi nitrit yang toksis (Schenider, 1975)




Nitrit di dalam tubuh menyebabkan terbentuknya methemoglobin  karena methemoglobin tidak dapat mengikat oksigen, maka akan terjadi Hipoksia atau Anoksia.
Disamping nitrit juga mengganggu enzim-enzim untuk metabolisme protein.
Nitrit juga mempengaruhi fungsi kelenjar gondok, karena nitrit mengganggu pengambilan yodium oleh kelenjar gondok (mangkoewidjojo, 1985)



BAB II MANAJEMEN LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN
Menurut Darmawan & Lions (1981)
Metode sederhana & relatif murah utk pengolahan limbah RPH (tetapi metode ini hanya sedikit menanggulangan problema lingkungan & kesehatan) dengan memisahkan komponen-komponen yang terdapat di dalam cairan RPH, seperti :


Darah
dapat dikumpulkan di bak pengumpulan darah atau dialirkan ke bah ksusus dengan sistem drainage sehingga darah tidak bercampur dengan limbah cair lain dan dapat dioleh sebagai hasil ikutan (by product).

Lemak
dapat dikumpulkan dengan menangkap partikel-partikel lemak dengan menggunakan sistem perangkap




Bahan padat
dapat dikumpulkan dengan cara mencuci & memisahkan isi perut (rumen) kemudian menyaring limbah cair tersebut.




Cara pengolahan limbah menurut Dart (1985)
1. Chemical Treatment
Partikel-partikel yang kecil dari zat organik tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi, untuk mengatasi hal ini, maka partikel yang kecil perlu digabungkan menjadi kumpulan partikel.
Proses koagulasi ini dengan cara menambahkan coagulant seperti Alumino Feric (setara dengan 17 ppm Aluminium), dan dapat mengurangi kadar BOD5 air limbah dari 856 ppm menjadi 305 ppm (reduksi 64%)




2. An aerobic Biological Treatment
Proses digesti anaerobic diselenggarakan tanpa adanya gas oksigen mikro organisme anaerobic dalam proses tersebut menggunakan oksigen yang terdapat dalam bahan organik. Pada pengolahan air limbah dengan cara ini, bahan organik di dalam limbah tersebut akan dipecah menjadi gas Methane (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Dengan cara ini reduksi kadar BOD5 air limbah RPH dapat mencapai 95%




3. Aerobic Biological Treatment
ada 3 cara utama pengolahan limbah cair RPH secara aerobic dengan menggunakan prinsip-prinsip biokimiawi, yaitu :
Activated sludge
Mikroorganisme aerobik bereaksi dengan udara sehingga terjadi proses biologis oleh bakteri tsb. Setelah proses terjadi, cairan yang tercampur tadi mengalir menuju tangki pengenadapan di mana Activated sludge mengendap & terjadi proses biologis bakteri aerob,



sehingga cairan supernatant di tangki pengendapan dihancurkan & keluar sebagai efluen.
b. Oxydation Ponds
Kolam oxidasi adalah bentuk sederhana dari Aerobic biological treatment dan dapat dipandang sebagai proses pengolahan limbah secara alam.
Prinsip kerjanya  memanfaatkan pengaruh sinar matahari, ganggang, baktyeri dan oksigen




c. Trickling Filters
Pada Trickling Filters digunakan saringan tipis seperti film yang mempunyai permukaan kuat. Limbah ditahan pada permukaan filter & langsung turun ke bawah, sementara itu udara percolasi menembus tapis tengah & memberikan suply oksigen untuk purifikasi.
Trickling Filters merupakan metoda yang baik untuk pengolahan limbah cair RPH & industri daging karena standard efluent yang baik dapat dicapai.




Pemusnahan limbah padat RPH yaitu dengan :
a. Dibakar
metode ini paling baik & memuaskan.
untuk memusnahkan limbah padat RPH yang tidak dapat didaur ulang adalah dengan jalan membakar limbah padat tersebut dalam suatu tungku pembakaran (Incenirator).
b. Ditanam
Cara ini tidak dianjurkan karena bahan-bahan berbahaya dari limbah tsb dapat digali kembali oleh binatang lain.


BAB III DAMPAK POSITIF MANAJEMEN LIMBAH RPH
Dampak psitif atau manfaat tersebut dapat berupa :
Hygiene lingkungan pada daerah sekitar RPH menjadi lebih baik.
Daerah tsb tidak dicemari oleh darah, isi rumen & intestinal, serta kotoran ternak (feses) yang menumpuk.


Keadaan lingkungan yang baik & bersih dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sehingga produktivitas masyarakat kerja dapat lebih ditingkatkan lagi (Kusnoputranto, 1985).

2. Berkurangnya tempat untuk berkembang biak binantang penyebab dan penyebar penyakit, sehingga incidence penyakit yang erat hubungannya dengan keburukan pengelolaan limbah RPH dapat ditekan.



3. Daging asal ternak yang dipotong di RPH dapat terhindar dari kontaminasi penyakit, sehingga tujuan utama pendirian RPH dapat terpenuhi yaitu memproduksi daging yang sehat dan aman bagi konsumen.



Manfaat lain yang didapat dari pengolahan limbah RPH  5 hasil sampingan (by product)
1. Tepung darah (blood meal)
Darah hewan mengandung max 20% solid & kira-kira 5 kg darah segar akan menghasilkan 1 kg tepung darah kering dengan kelembaban 10-12%.
Bahan makanan tepung darah mengandung protein dalam kadar tinggi (80-82%).



Darah dapat diproses menjadi :
a. tepung darah  digunakan oleh pabrik pakan ternak sebagai campuran makanan ternak ayam baik petelur maupun pedaging & itik.
b. Darah yang dibekukan
Digunakan untuk makanan anjing (dog food)

2. Tepung tulang (calcinated bone meal)
Tepung tulang sebagai suplement atau penambah unsur phosphat pada pakan ternak. Setiap 45 kg tulang dari hewan yang baru disembelih mengalami konversi menjadi 15 kg tepung tulang
Tulang diproses dan diolah menjadi :
a. Bahan baku lem/perekat
b. nitrogen, calcium & phospor yang terdapat ditulang dapat diolah menjadi pupuk.
c. Untuk bahan campuran pakan ternak


Penambahan 2 s/d 3 sendok tepung tulang setiap hari pada pakan sapi, dapat menyebabkan (Manual Kesvet, 1985) :
1. memperpendek Calving interval
2. meningkatkan produksi susu
3. meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh bagi induk dan anak sapi
Penambahan kuku dan tanduk pada tepung tulang tidak diperkenankan karena produk tersebut sukar dicerna oleh hewan.


3. Isi rumen (ruminal contents)
Adalah makanan yang belum dicerna secara sempurna pada lambung pertama ruminansia & mengandung saliva, mikroba an aerob, selulosa, hemi selulosa, protein, lemak, karbohidart, mineral dan vitamin (Van Soest, 1982)

Secara mekanis makanan yang tidak tercerna tersebut tercampur dengan Saliva dalam jumlah yang besar sehingga membuat sejumlah bakteri dapat hidup & berkembang di dalam rumen. Isi rumen mengandung serat kasar tinggi dan kandungan protein yang rendah (Mc. Donald et.al.,1987).

Kadar protein isi rumen adalah 6,13% dengan kadar serat kasar 28,5% dan kadar hemiselulosa 19,07% (Surjoatmodjo, 1988). Walaupun kualitas isi rumen sapi rendah akan tetapi Preston dan Leng (1986) menyatakan bahwa isi rumen dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Isi rumen juga dapat diproses menjadi bahan padat, bahan padat tersebut dapat digunakan untuk :
a. Pemupukan kolam ikan dan udang
b. Dicampur dengan kotoran ternak menjadi kompos

4. Kotoran ternak (feses)
Kotoran ternak yang berasal dari kandang penampungan sementara dan kandang karantina, dikumpulkan ditempat penampungan.

Kotoran ternak tersebut kemudian dikelola & dimanfaatkan menjadi :
a. Pupuk tanaman
Kotoran ternak sebelum dipergunakan sebagai pupuk diproses terlebih dahulu, agar unsur-unsur kandungan zat hara seperti nitrogen, phospos dan kalium serta elemenlainnya yang dibutuhkan tanaman tidak terbuang.

b. Pupuk perikanan darat
Dengan mengalirnya kotoran ternak ke kolam ikan, maka pertumbuhan Algae (ganggang) & plankton menjadi subur.
Algae & plankton ini sangat berguna sebagai makanan ikan.

c. Sebagai sumber energi
Kotoran ternak dapat diproses untuk menghasilkan gas bio. Gas bio merupakan bahan bakar yang berguna karena nilai kalornya cukup tinggi, yaitu dalam kisaran < 800 -6700 kcal/m3 (Harahap, 1978)

Penggunaan energi gas bio untuk pemakaian rumah tangga, pertanian, industri skala kecil & sebagainya.
Lumpur gas bio dapat dipergunakan untuk pupuk tanaman, karena kandungan unsur N-P-K nya cukup tinggi.
Lumpur gas bio tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk stabilisasi tanah yang berlempung/ berkapur. Sebagai material untuk pembuatan kompos, lumpur gas bio ini dapat dikombinasikan dengan sampah kota atau enceng gondok.

5. Kelenjar
Kelenjar dari ternak sapi dapat dimanfaatkan dalam dunia farmasi untuk dijadikan obat-obatan.
Kelenjar yang dapat diproduksi menjadi obat-obatan adalah :
a. kelenjar lambung  mengandung enzim yang dapat digunkan untuk memperbaiki gangguan sistem pencernaan.
b. kelenjar thyroid  menghasilkan hormon thyroxin


c. kelenjar pankreas  menghasilkan hormon
insulin
d. kelenjar adrenal menghasilkan hormon
adrenalin
e. ovarium  menghasilkan hormon oestrogen
& progesteron
f. testis  menghasilkan hormon testosteron
g. kelenjar pintituitary menghasilkan hormon
steroid


Pengelolaan & pemanfaatan limbah RPH, ternyata dapat menyebabkan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan bahan baku tersebut, seperti :
- pabrik tepung darah
- pabrik tepung tulang
- pabrik pakan ternak
- pabrik obat-obatan
- dan sebagainya
yang banyak menyerap tenaga kerja

BAB IV MANAJEMEN PRODUKSI BERSIH DI RUMAH POTONG HEWAN
Masalah lingkungan secara global dapat disederhanakan menjadi :
1. Penyebaran & beban penduduk yang timpang
2. Eksploitasi sumber daya yang serakah
3. Teknologi yang menghasilkan limbah
berlebih


Hirarki manajemen limbah  kunci menuju produksi bersih.
Hirarki ini dapat berjalan dengan memastikan bahwa semua tindakan yang dapat dilakukan dipertimbangkan dalam suatu urutan pilihan yaitu :
Menghindari dan/atau mengurangi limbah
Penggunaan kembali, daur ulang dan reklamasi limbah
Pengolahan limbah
Pembuangan limbah

Teknologi yang paling baik untuk pengelolaan limbah RPH adalah teknologi tepat guna.

Menurut Notoatmodjo (1981)
Teknologi tepat guna adalah suatu teknologi sederhana dengan menggunakan teknik, peralatan tenaga dan metoda yang sederhana tetapi dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dengan tidak menimbulkan pencemaran bagi lingkungan.


Menurut Soerjani (1996)
Teknologi tepat guna adalah berupa teknologi miskin limbah, teknologi daur ulang limbah, teknoplogi hemat bahan, teknologi substitusi bahan & teknologi produksi bersih.


Pada era tahun 1990-an strategi pengelolaan lingkungan berubah lagi menjadi upaya preventif atau pencegahan, dimana prinsip produksi bersih (cleaner production) dikembangkan sebagai suatu pendekatan strategi preventivf yang bersifat terpadu & operasional.


Upaya produksi dilaksanakan dengan tujuan mencegah, mengurangi dan atau pencemar di seluruh daur hidup product (Product – life cycle analysis) sehingga dapat melindungi sumber daya alam dan energi yang lebih efisien (Bratasida, 1997)

BAB V Teknologi untuk Mengatasi Limbah RPH
Dalam mengatasi limbah RPH, paling tepat digunakan teknologi produksi bersih, dengan menggunakan cara :
1. Teknologi miskin limbah
2. Teknologi daur ulang limbah
3. Teknologi pengolahan limbah



Dengan manajemen produksi bersih, RPH akan mendapatkan keuntungan, antara lain berupa :
1. Mengurangi biaya pengolahan limbah
2. Penghematan bahan baku
3. Mencegah kerusakan lingkungan
4. Mengurangi biaya terhadap kesehatan &
keselamatan kerja

Tidak ada komentar:

KUNtilanak galeri

KUNtilanak galeri

sapa yang masuk?

  • http://kunto-anggoro.blogger.com

Mengenai Saya

Foto Saya
Luka hati tak akan bisa hilang sampai ajal menjemput